Pada 15 Februari 2006 aku mendapatkan sebuah SMS yang memilukan dari Yayan. Yayan mengabarkan bahwa dini harinya sahabat Karenius (alias Kayus) Yigibalom meninggal dunia di Papua karena malaria.
Pada 16 Februari, Yayan kembali mengirim SMS, sebuah undangan terbuka bagi kawan2 untuk menghadiri acara kebaktian terhadap Kayus pada 17 Februari (Jumat) 2006 di Pusat Kegiatan Mahasiswa di Jalan Tegalsari 62, Surabaya.
Kayus, adalah seorang sahabat, adik, rekan, dan partner yang menarik.Kayus adalah seorang putera asli Wamena, Papua. Dari sebuah kawasan pegunungan yang indah, katanya berulang kali. Beberapa kali dia menceritakan ketika dia hendak memasuki SMA. Dia harus meninggalkan kampungnya, dan berjalan kaki selama 2 hari. Sebagai penunjuk arah, dia akan selalu memanjat pohon, sembari mengukur jarak dan arah tujuan perjalannnya.
Beberapa kali pula dia kami kerjain, dan menghadiri kebaktian di Gereja Batak (HKBP), pada saat kebaktian berbahasa Batak. Dan kalo sudah begitu, cirinya adalah tersenyum...
Pada 23 Februari, Kukuh mengirim SMS yang lebih memilukan. SMS itu menyatakan bahwa Yayan meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas, di Pare, Kediri, Jatim. Dan dikuburkan di Mojowarno, Jatim.
Yayan juga seorang sahabat, adik, rekan, dan partner yang menarik.Yayan adalah seorang putera asli Tulung Agung, Jatim. Sebuah daerah yang terkenal dengan dunia santetnya. Berbeda dengan Kayus, dia tidak mau dikerjain untuk menghadiri kebaktian di Gereja Batak (HKBP), pada saat kebaktian berbahasa Batak.
Akan tetapi, orang tua Yayan sudah mengangkat aku sebagai anak, dan memberi nama 'Bimo' untukku. "Ibuku mendapat wangsit waktu lae mau datang ke rumah," kata Yayan waktu aku mau berkunjung untuk pertama kalinya ke Tulung Agung.
Responku pertama kali mendapat kabar ini adalah: sungguh kurang ajar kedua adikku ini. Berani2nya melampaui aku terlebih dahulu. Dan meninggalkan kepenatan yang ada di kehidupan ini. Beberapa hari kemudian aku memimpikan Yayan dengan gaya seriusnya yang khas. Dan pada 11 April 2006, aku memimpikan Kayus. Kayus yang kulihat adalah sosok dengan senyum tulus khasnya, di tengah hijaunya alam di sebuah pegunungan. Sampai jumpa lagi pace. Tetaplah dengan keseriusan, dan senyum kalian yang khas....