Wednesday, June 24, 2009
Thursday, October 19, 2006
airrr
Kalau ini dari Borneonews edisi (19/10)" PANGKALAN BUN (Borneonews): Distribusi air PDAM Tirta Marta Kotawaringin Barat (Kobar) terancam berhenti total, jika kemarau pan¬jang masih berlangsung sampai dua bulan ke depan.
Hal tersebut terjadi karena air ta¬war PDAM berubah menjadi a¬sin dan tidak layak konsumsi. Perubahan air tawar menjadi air asin terjadi karena penurunan ketinggian debit air permukaan Sungai Arut akibat musim kemarau.
Sehingga, ketika air laut pasang dengan mudah masuk ke dalam daerah aliran Sungai Arut yang menjadi sumber air baku.
"Pernah kejadian air laut masuk ke sungai selama satu jam. Tapi, masih bisa ditoleransi karena air enggak sempat asin. Paling cuma payau," kata Kepala Sub Bagian Distribusi PDAM Tirta Marta Kobar Wijianto, kemarin.
Jika air laut masuk ke sungai sampai tiga jam, hampir dapat dipastikan air sungai berubah menjadi asin. Dalam kondisi demikian, pihaknya akan menghentikan total proses produksi dan distribusi, selanjutnya segera mengamankan mesin pompa di Sungai Arut untuk mencegah kerusakan akibat air yang asin.
Sejak awal, pihaknya telah melakukan antisipasi dengan tidak menambah jaringan dan pelanggan baru untuk mengurangi beban produksi karena debit air baku semakin terbatas.
"Konsekuensinya income (pendapatan) perusahaan kecil," ujarnya. Pergiliran pasokan Dalam empat bulan terakhir, PDAM terpaksa melakukan pergiliran pasokan air.
Untuk wilayah satu, yang meliputi Kelurahan Banban (Jalan Sutan Syahrir) pasokan air berjalan setiap hari. Sedangkan wilayah dua, yang melalui Jalan Hasanudin-Diponegoro-Antasari-Perwira, serta wilayah tiga yang melewati Jalan Pasanah-Ahmad Yani-Pakunegara-H Udan Said-Berunia-Sukma A Ningrat-GM Arsyad-Padat Kar¬ya, mengunakan sistem satu hari mengalir dan satu hari mati.
Perbedaan distribusi disebabkan setengah pelanggan dari wilayah satu terdiri dari instasi pemerintah, sehingga debit air yang dipasok tidak sebesar wilayah dua dan tiga yang merupakan daerah permukiman penduduk.
Pemkab Kobar melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) telah membantu melalui proyek penambahan instalasi produksi Pangkalan Bun, rehabilitasi instalasi produksi di Kumai, dan penambahan jaringan pipa transmisi sepanjang 1.000 meter.
Saat ini, PDAM Tirta Marta hanya mampu memproduksi air baku antara 35 liter-40 liter/detik. Padahal, dalam kondisi normal kapasitas produksi mampu mencapai 55 liter/detik.
Di tempat terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Kesehatan Kobar Parimin Mulyadi membenarkan bahwa air asin tidak layak konsumsi.
Syarat air minum layak konsumsi adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak bewarna, dan bebas bakteri.
Jika salah satu syarat tidak terpenuhi, air tersebut tidak layak minum.
"Air asin itu kan berasa. Jadi tidak layak minum. Tapi, kalau ha¬nya untuk keperluan rumah tangga enggak masalah," katanya saat dihubungi lewat telepon selulernya, kemarin.
Parimin juga mengingatkan masyarakat untuk memasak air sebelum dikonsumsi. (AS/B-1)
Hal tersebut terjadi karena air ta¬war PDAM berubah menjadi a¬sin dan tidak layak konsumsi. Perubahan air tawar menjadi air asin terjadi karena penurunan ketinggian debit air permukaan Sungai Arut akibat musim kemarau.
Sehingga, ketika air laut pasang dengan mudah masuk ke dalam daerah aliran Sungai Arut yang menjadi sumber air baku.
"Pernah kejadian air laut masuk ke sungai selama satu jam. Tapi, masih bisa ditoleransi karena air enggak sempat asin. Paling cuma payau," kata Kepala Sub Bagian Distribusi PDAM Tirta Marta Kobar Wijianto, kemarin.
Jika air laut masuk ke sungai sampai tiga jam, hampir dapat dipastikan air sungai berubah menjadi asin. Dalam kondisi demikian, pihaknya akan menghentikan total proses produksi dan distribusi, selanjutnya segera mengamankan mesin pompa di Sungai Arut untuk mencegah kerusakan akibat air yang asin.
Sejak awal, pihaknya telah melakukan antisipasi dengan tidak menambah jaringan dan pelanggan baru untuk mengurangi beban produksi karena debit air baku semakin terbatas.
"Konsekuensinya income (pendapatan) perusahaan kecil," ujarnya. Pergiliran pasokan Dalam empat bulan terakhir, PDAM terpaksa melakukan pergiliran pasokan air.
Untuk wilayah satu, yang meliputi Kelurahan Banban (Jalan Sutan Syahrir) pasokan air berjalan setiap hari. Sedangkan wilayah dua, yang melalui Jalan Hasanudin-Diponegoro-Antasari-Perwira, serta wilayah tiga yang melewati Jalan Pasanah-Ahmad Yani-Pakunegara-H Udan Said-Berunia-Sukma A Ningrat-GM Arsyad-Padat Kar¬ya, mengunakan sistem satu hari mengalir dan satu hari mati.
Perbedaan distribusi disebabkan setengah pelanggan dari wilayah satu terdiri dari instasi pemerintah, sehingga debit air yang dipasok tidak sebesar wilayah dua dan tiga yang merupakan daerah permukiman penduduk.
Pemkab Kobar melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) telah membantu melalui proyek penambahan instalasi produksi Pangkalan Bun, rehabilitasi instalasi produksi di Kumai, dan penambahan jaringan pipa transmisi sepanjang 1.000 meter.
Saat ini, PDAM Tirta Marta hanya mampu memproduksi air baku antara 35 liter-40 liter/detik. Padahal, dalam kondisi normal kapasitas produksi mampu mencapai 55 liter/detik.
Di tempat terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Kesehatan Kobar Parimin Mulyadi membenarkan bahwa air asin tidak layak konsumsi.
Syarat air minum layak konsumsi adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak bewarna, dan bebas bakteri.
Jika salah satu syarat tidak terpenuhi, air tersebut tidak layak minum.
"Air asin itu kan berasa. Jadi tidak layak minum. Tapi, kalau ha¬nya untuk keperluan rumah tangga enggak masalah," katanya saat dihubungi lewat telepon selulernya, kemarin.
Parimin juga mengingatkan masyarakat untuk memasak air sebelum dikonsumsi. (AS/B-1)






